Sejarah Kwitang, Lokasi Mako Brimob yang Digeruduk Massa Ojol

Daerah Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, kini menjadi sorotan. Hal itu lantaran massa mitra pengemudi ojek online (ojol) menggeruduk Markas Komando atau Mako Brimob Polda Metro Jaya, pada Kamis malam, 28 Agustus 2025.
Aksi geruduk ini buntut dua orang mitra pengemudi ojol terlindas Mobil Kendaraan Taktis atau Rantis Barracuda milik Brimob saat menghalau demonstrasi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Satu korban selamat bernama Moh Umar Amarudin, asal Sukabumi, Jawa Barat. Sementara itu, korban meninggal dunia diketahui bernama Affan Kurniawan. Berdasarkan informasi yang beredar, ia meninggal dunia usai mendapat perawatan di rumah sakit.
Kwitang pernah dikenal sebagai salah satu pusat penjualan buku-buku di Jakarta. Dulu, sekitar era awal 1990 hingga akhir 2010, banyak sekali lapak penjual buku-buku baru ataupun bekas dapat ditemui di kawasan ini.
Bahkan, masyarakat Jakarta banyak yang datang ke Kwitang untuk mencari berbagai jenis buku pelajaran. Kalau ditelusuri lebih jauh tentang asal usul kawasan Kwitang, ternyata kawasan ini memiliki sejarah yang cukup panjang di Jakarta.
Seperti diketahui, awalnya asal muasal nama Kwitang sendiri berasal dari nama seorang saudagar China bernama Kwik Tang Kiam. Ia konon adalah seorang pedagang yang sangat kaya raya. Ia membeli banyak tanah di kawasan tersebut.
Bahkan, hampir semua tanah di sana merupakan miliknya. Oleh sebab itu, masyarakat banyak yang menyebut kawasan itu sebagai kawasan Kwik Tang atau Kwi Tang. Menurut legenda, Kwik Tang memiliki seorang anak tunggal yang suka berjudi dan mabuk-mabukan.
Hingga ketika sang ayah meninggal dunia, harta bendanya pun habis dijual oleh sang anak. Sebagian besar diantaranya dibeli oleh saudagar keturunan Arab. Seiring perkembangannya kawasan ini mulai banyak dihuni oleh masyarakat berketurunan Arab.
Catatan lainnya menyebutkan bahwa Kwitang sekitar 1960-an dikenal sebagai salah satu perkampungan di Jakarta yang dikenal sebagai gudangnya jagoan pencak silat. Pada zaman itu, konon hampir di tiap kampung Betawi terdapat jagoan silat.
Di Kwitang, termaksud yang paling terkenal banyaknya. Terdapat salah satu sosok jagoan pencak silat Betawi yang populer pada zaman itu yakni H Muhammad Djaelani, atau yang dikenal dengan sebutan Mad Djaelani.
Aliran silatnya yang merupakan akulturasi antara silat Betawi dengan Cina, kemudian dikenal dengan nama Mustika Kwitang. Nah, aliran silat China yang terdapat dalam unsur Mustika Kwitang ini awalnya dibawa oleh Kwie Tang Kiam, yang juga perantau asal negeri Tirai Bambu.
Ilmu silat tersebut mirip aliran Shaolin yang mengombinasikan unsur tenaga, fisik, dan kecepatan. Bahkan, kehebatan ilmunya diakui masyarakat dan para jawara Betawi pada masa itu.
Akulturasi antara silat Betawi dan silat cina tersebut kemudian menjadikan Mustika Kwitang sebagai perguruan pencak silat yang tangguh dan disegani di Jakarta.
Perguruan pencak silat ini berdiri pada 27 September 1948. Konon, perguran pencak silat Mustika Kwitang merupakan perguruan pencak silat tertua di Jakarta.
Singkatnya, aliran silat ini kemudian diwariskan pada cucu sekaligus muridnya yang bernama H Zakaria dan berkembang hingga muridnya mencapai puluhan ribu dan tersebar di seluruh Indonesia hingga mancanegara.
Pada 1952, H Muhammad Djaelani atau Mad Djaelani, mewariskan perguruan silat Mustika Kwitang ini kepada cucunya yang bernama Zakaria Abdurachim. Mustika Kwitang, berkembang hingga muridnya mencapai puluhan ribu dan tersebar di seluruh Indonesia hingga mancanegara.