Rupiah Makin Anjlok Imbas Demo Lanjutan, Pengamat Ingatkan Pemerintah Peristiwa 1998

Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS hari ini terus merosot anjlok, sebagai imbas dari sejumlah sentimen negatif di dalam negeri.
Hal itu misalnya terkait dengan demo lanjutan akibat tragedi tewasnya seorang mitra pengemudi ojek online (ojol), akibat terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri pada Kamis malam, 28 Agustus 2025.
Pantauan Viva Bisnis di pasar spot pada Jumat, 29 Agustus 2025 hingga pukul 13.46 WIB, rupiah ditransaksikan di level Rp 16.477 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 124 poin atau 0,76 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.353 per dollar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, kejadian ini telah mengingatkan pada peristiwa 1998, dan berpotensi memicu gelombang demonstrasi yang lebih besar dengan tuntutan utama agar DPR mengesahkan undang-undang perampasan aset koruptor.
"Pemerintah pun juga harus berhati-hati ya," kata Ibrahim kepada media, Jumat, 29 Agustus 2025.
Meskipun Kapolri sudah meminta maaf atas kasus pelindasan oleh anggotanya hingga menewaskan mitra pengemudi ojol tersebut, namun Ibrahim mengingatkan bahwa pemerintah juga harus tetap waspada akan ekskalasi demo yang masih mungkin terus bergulir kedepannya.
"Walaupun Kapolri sudah meminta maaf secara terbuka terhadap ojek online, tapi mesti diingat bahwa pemerintah harus tetap waspada bahwa unjuk rasa kemungkinan besar akan terus bergulir," ujarnya.
Diketahui, tragedi meninggalnya seorang mitra pengemudi ojek online (ojol) akibat dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri pada Kamis malam, 28 Agustus 2025 kemarin, dinilai menjadi salah satu sentimen negatif bagi pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS hari ini.
Pantauan Viva Bisnis di pasar spot sebelumnya pada Jumat, 29 Agustus 2025 pukul 11.25 WIB, rupiah ditransaksikan di level Rp 16.451 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 98 poin atau 0,60 persen, dari posisi sebelumnya di level Rp 16.353 per dollar AS. Bahkan beberapa saat sebelumnya, terpantau bahwa mata uang Garuda sempat merosot signifikan hingga menyentuh level Rp 16.513 per dolar AS.
Ibrahim mengakui, sentimen negatif pelemahan rupiah ini salah satunya dipicu oleh faktor internal, khususnya ketegangan politik dalam beberapa hari terakhir yang telah berdampak sangat besar terhadap kurs mata uang merah putih tersebut.
"Kondisi perpolitikan di Indonesia ini membuat pasar kembali mencari aset-aset yang aman, yaitu adalah safe haven," ujarnya.