Seluruh Layanan TransJakarta Tidak Beroperasi Imbas Kericuhan Demo

Kabar tak sedap bagi para pengguna transportasi umum TransJakarta karena seluruh layanan tidak dapat beroperasi pada pagi ini. Informasi ini diungkapkan oleh PT. TranJakarta lewat unggahan di media sosialnya.
"Selamat pagi, Sahabat TiJe. Mengingat situasi yang tidak kondusif, seluruh layanan TransJakarta hingga saat ini masih tidak dapat melayani pelanggan," demikian pernyataan resmi PT TransJakarta melalui akun Instagram, Sabtu pagi, 30 Agustus 2025.

Info TransJakarta
Penghentian operasional ini merupakan dampak dari situasi tidak kondusif di Jakarta yang dipicu oleh kericuhan demonstrasi sejak 28 Agustus 2025. Penghentian layanan ini berdampak signifikan bagi warga Jakarta yang mengandalkan transportasi umum untuk aktivitas sehari-hari, termasuk para wisatawan yang sedang menjelajahi ibu kota.
Untuk memastikan kelancaran perjalanan, TransJakarta mengimbau pelanggan memantau informasi terkini melalui Instagram @infotije, aplikasi TJ: TransJakarta, atau akun X @pt_transjakarta.
Penghentian layanan TransJakarta dimulai sejak Jumat malam, 29 Agustus 2025, pukul 22.11 WIB, akibat eskalasi kericuhan di sejumlah titik di Jakarta. Sebelumnya, beberapa rute telah dialihkan atau dihentikan sementara karena penutupan jalan di sekitar Gedung DPR/MPR, Markas Brimob Polda Metro Jaya, dan kawasan Senen. Situasi ini tidak hanya memengaruhi layanan Bus Rapid Transit (BRT), tetapi juga layanan non-BRT dan Mikrotrans.
Kepala Departemen Humas dan CSR TransJakarta, Ayu Wardhani, menyatakan bahwa operasional dilakukan secara situasional, menyesuaikan kondisi di lapangan. Bagi wisatawan, gangguan ini dapat memengaruhi rencana kunjungan ke destinasi populer seperti Monas atau Kota Tua, sehingga disarankan untuk menggunakan transportasi alternatif seperti KRL Commuter Line, yang pagi ini dilaporkan beroperasi normal meski dengan pengawasan ketat.
Kronologi Kericuhan Demonstrasi
Kericuhan bermula pada Kamis, 28 Agustus 2025, saat aksi demonstrasi buruh di depan Gedung DPR/MPR di Jakarta menolak revisi UU Pilkada dan menuntut reformasi ketenagakerjaan. Aksi ini berakhir ricuh menjelang malam, ditandai dengan bentrokan antara massa dan aparat kepolisian.
Situasi semakin memanas ketika seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan tewas setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Insiden tragis ini memicu kemarahan komunitas ojol dan warga, yang kemudian berkumpul di Markas Brimob Kwitang dan gedung Polda Metro Jaya untuk menuntut keadilan.
Pada Jumat, 29 Agustus 2025, demonstrasi berlanjut dan meluas ke wilayah seperti Jatinegara, Jakarta Timur, dan Senen. Massa membakar fasilitas umum, termasuk halte TransJakarta di depan Polda Metro Jaya, serta merusak pos polisi dan pagar Polsek Jatinegara.
Aparat kepolisian menggunakan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan kerumunan, tetapi aksi massa terus berlangsung hingga dini hari. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan permintaan maaf atas insiden kematian Affan dan berjanji mengusut kasus ini secara transparan, dengan melibatkan Propam Polri untuk memeriksa anggota Brimob yang terlibat. Hingga Sabtu pagi, situasi di Jakarta belum sepenuhnya kondusif, menyebabkan seluruh layanan TransJakarta tetap terhenti.