Cara Mengelola Uang Jajan Anak Sesuai Usia agar Belajar Cerdas Finansial

Ilustrasi Mengelola Uang Jajan Anak, Usia Pra-Sekolah (3–6 Tahun), Usia SD Kelas Awal (7–9 Tahun), Usia SD Kelas Akhir (10–12 Tahun), Anak Usia SMP (13–15 Tahun), Anak Usia SMA (16–18 Tahun)
Ilustrasi Mengelola Uang Jajan Anak

 Mengelola uang jajan anak sering dianggap sepela dan sederhana. Padahal, hal ini menjadi pintu awal untuk membentuk kebiasaan finansial yang baik. 

Anak yang sejak kecil dilatih menggunakan uang dengan bijak akan lebih siap menghadapi tantangan keuangan saat dewasa. Sebaliknya, jika dibiarkan tanpa arahan maka anak bisa tumbuh dengan perilaku konsumtif yang sulit dikendalikan.

Setiap tahap usia anak memiliki kebutuhan dan kemampuan berbeda dalam memahami konsep uang. Oleh karena itu, cara orang tua dalam memberikan uang jajan sebaiknya disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman anak.

Dengan strategi yang tepat, uang jajan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan harian tetapi juga sarana belajar cerdas finansial. Berikut cara yang bisa ayah dan ibu terapkan dalam menentukan uang jajan ideal untuk si Kecil.

Usia Pra-Sekolah (3–6 Tahun)

Pada usia ini, anak belum sepenuhnya memahami nilai uang, tetapi sudah mulai mengenali bahwa uang bisa digunakan untuk membeli sesuatu. Orang tua bisa memberikan uang jajan dalam jumlah kecil, misalnya Rp2.000–Rp5.000, hanya sesekali.

Tujuannya bukan untuk belanja bebas, tetapi sebagai latihan mengenal uang. Di tahap ini, penting mengenalkan konsep sederhana seperti “kalau ingin beli mainan, harus menunggu dan menabung dulu.”

Usia SD Kelas Awal (7–9 Tahun)

Anak usia SD kelas awal mulai belajar berhitung sederhana, sehingga cocok untuk diberi uang jajan harian. Nominal bisa disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, misalnya Rp5.000–Rp10.000 per hari.

Orang tua bisa mulai mengajarkan konsep prioritas, seperti memilih membeli makanan sehat daripada jajan berlebihan. Selain itu, kenalkan kotak tabungan atau celengan transparan agar anak bisa melihat hasil tabungannya bertambah.

Usia SD Kelas Akhir (10–12 Tahun)

Di usia ini, anak mulai bisa diberi tanggung jawab lebih besar dengan uang jajan mingguan, misalnya Rp30.000–Rp50.000. Hal ini melatih mereka mengatur pengeluaran agar uang cukup sampai akhir minggu.

Orang tua bisa memberi tantangan kecil, seperti menyisihkan minimal Rp5.000 untuk ditabung setiap minggu. Konsep menunda kesenangan (delayed gratification) juga bisa mulai diperkenalkan, misalnya menabung untuk membeli mainan atau buku yang diinginkan.

Anak Usia SMP (13–15 Tahun)

Saat SMP, anak biasanya mulai memiliki keinginan lebih banyak, seperti membeli pulsa, nongkrong dengan teman, atau membeli barang hobi. Orang tua bisa memberikan uang jajan bulanan, misalnya Rp150.000–Rp250.000, sesuai kebutuhan dan kemampuan keluarga.

Di tahap ini, orang tua perlu mengenalkan catatan keuangan sederhana, seperti tulis pengeluaran harian agar anak tahu kemana uangnya pergi. Ajak anak berdiskusi jika uang habis terlalu cepat, sehingga mereka belajar bertanggung jawab atas pilihannya.

Anak Usia SMA (16–18 Tahun)

Anak SMA sudah semakin mandiri dan mulai memikirkan gaya hidup. Uang jajan bulanan bisa ditambah, misalnya Rp300.000–Rp500.000, dengan syarat anak mampu mengatur keuangan dengan baik. Orang tua bisa mulai memperkenalkan rekening tabungan di bank agar anak belajar menabung secara modern. Selain itu, ajari konsep keuangan yang lebih luas, seperti perbedaan kebutuhan dan keinginan, pentingnya menabung jangka panjang, serta risiko berutang.

Mengelola uang jajan anak bukan sekadar soal memberi uang, melainkan membekali mereka dengan keterampilan finansial sejak dini. Dengan menyesuaikan nominal dan cara pemberian sesuai usia, anak belajar menghargai uang, menabung, dan membuat keputusan bijak. Keterampilan ini akan menjadi bekal berharga untuk masa depan mereka, sehingga kelak mampu mengelola keuangan pribadi dengan cerdas dan bertanggung jawab.