4 Kesalahan Umum dalam Kredit Mobil Bisa Sebabkan Keuangan Berantakan

Membeli mobil dengan sistem kredit sudah menjadi pilihan populer bagi banyak orang di Indonesia. Sayangnya, tidak sedikit orang yang akhirnya terjebak masalah finansial akibat kurang bijak dalam mengelola cicilan.
Alasan cicilan mobil populer di masyarakat tanah air karena tidak perlu menunggu tabungan terkumpul hingga ratusan juta rupiah, cukup membayar uang muka dan cicilan bulanan. Namun, sejumlah kesalahan dalam perencanaan kredit mobil bisa menjadi jebakan finansial karena berdampak panjang hingga menyebabkan terlilit utang.
Agar hal tersebut tidak terjadi, penting untuk memahami kesalahan apa saja yang paling sering dilakukan saat mengambil kredit mobil. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
1. Mengambil Cicilan Terlalu Besar
Kesalahan pertama yang sering dilakukan adalah mengambil cicilan mobil yang terlalu besar dibandingkan dengan gaji bulanan. Banyak orang terbuai dengan tawaran mobil impian, tanpa menghitung kemampuan bayar. Pakar keuangan menyarankan agar cicilan maksimal hanya 30 persen dari penghasilan bulanan.
Misalnya jika gaji Anda Rp8 juta maka cicilan yang aman tidak lebih dari Rp2,4 juta per bulan. Jika cicilan melebihi angka tersebut, besar kemungkinan gaji akan terasa cepat habis hanya untuk membayar kredit mobil. Akibatnya, kebutuhan lain seperti makan, pendidikan, atau tabungan darurat bisa terganggu.
2. Mengabaikan Biaya Operasional Mobil
Banyak orang hanya fokus pada cicilan bulanan tanpa mempertimbangkan biaya operasional mobil. Padahal, memiliki mobil berarti juga harus siap dengan pengeluaran tambahan, seperti bensin, servis rutin, pajak tahunan, asuransi, hingga biaya parkir dan tol.
Jika biaya-biaya ini tidak diperhitungkan sejak awal, pengeluaran bulanan bisa membengkak. Misalnya, seorang pemilik mobil dengan cicilan Rp2 juta per bulan mungkin harus mengeluarkan tambahan Rp1–1,5 juta untuk bensin dan perawatan. Jika gaji tidak cukup besar, kondisi ini bisa memaksa seseorang berutang lagi hanya untuk menutup kebutuhan lain.
3. Tidak Menyiapkan Uang Muka yang Cukup
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak menyiapkan uang muka (down payment/DP) dalam jumlah ideal. Banyak orang tergoda dengan promo DP rendah, bahkan ada yang menawarkan nol persen. Sekilas memang terlihat meringankan, tapi sebenarnya akan membuat cicilan bulanan jauh lebih besar.
Idealnya DP minimal 25–30 persen dari harga mobil. Jika mobil seharga Rp200 juta sehingga DP sebaiknya Rp50–60 juta. Dengan DP besar, sisa pokok pinjaman akan lebih kecil sehingga cicilan bulanan lebih ringan. Selain itu, bunga yang harus dibayar selama tenor kredit juga otomatis lebih rendah.
4. Tidak Memperhitungkan Bunga
Kesalahan terakhir adalah hanya melihat besarnya cicilan bulanan tanpa menghitung total bunga yang harus dibayar. Banyak orang merasa nyaman dengan cicilan kecil karena memilih tenor panjang, misalnya 7 atau 8 tahun. Padahal, semakin panjang tenor, semakin besar bunga yang harus ditanggung.
Contohnya, kredit mobil Rp150 juta dengan bunga 6% per tahun. Jika diambil tenor 3 tahun, total bunga sekitar Rp27 juta. Namun jika tenor diperpanjang hingga 7 tahun, bunga yang dibayar bisa melampaui Rp60 juta. Artinya, Anda membayar jauh lebih mahal dibanding harga asli mobil. Oleh karena itu, penting menghitung total biaya keseluruhan, bukan hanya cicilan bulanan.
Kredit mobil memang bisa menjadi solusi praktis untuk memiliki kendaraan tanpa harus menunggu tabungan terkumpul. Namun, kesalahan dalam menghitung cicilan, mengabaikan biaya operasional, menyepelekan uang muka, hingga tidak memperhatikan total bunga bisa membuat kondisi finansial berantakan.
Agar aman, pastikan cicilan tidak lebih dari 30% gaji, siapkan DP yang cukup, hitung seluruh biaya tambahan, serta pahami total bunga sebelum menandatangani kontrak. Dengan perencanaan yang matang, mobil bisa menjadi penunjang mobilitas tanpa mengorbankan kesehatan keuangan Anda.