Top 5+ Ciri Financial Abuse yang Harus Anda Kenali agar Tidak Terjebak dalam Hubungan Toxic

Ilustrasi konflik pasangan, 1. Pasangan Membatasi Akses Keuangan, 2. Memaksa Berutang atas Nama Sendiri, 3. Mengendalikan Setiap Pengeluaran , 4. Menyembunyikan Informasi Keuangan, 5. Menggunakan Uang sebagai Alat Kontrol Emosional
Ilustrasi konflik pasangan

Ketika berbicara tentang kekerasan dalam hubungan, banyak orang langsung memikirkan kekerasan fisik atau verbal. Namun, ada bentuk lain yang tidak kalah berbahaya dan sering luput dari perhatian, yaitu financial abuse atau kekerasan finansial. 

Kondisi tersebut terjadi ketika salah satu pihak berusaha mengendalikan pasangannya melalui akses terhadap uang, harta, atau sumber daya finansial. Financial abuse bisa membuat korban kehilangan kemandirian ekonomi, sulit keluar dari hubungan toxic, bahkan terjerat utang yang bukan tanggung jawabnya. 

Sifatnya sering tersembunyi, banyak orang baru menyadari setelah dampaknya terasa berat. Berikut setidaknya lima tanda financial abuse.

1. Pasangan Membatasi Akses Keuangan

Salah satu tanda utama financial abuse adalah ketika pasangan sengaja membatasi akses Anda terhadap uang. Misalnya, semua pendapatan disimpan atas nama mereka, dan Anda harus meminta izin untuk sekadar mengambil uang belanja.

Kondisi ini membuat Anda tidak memiliki kendali atas keuangan pribadi. Dalam jangka panjang, kemandirian finansial hilang, dan Anda terjebak dalam ketergantungan penuh. Jika pasangan menggunakan kontrol ini sebagai cara mengatur hidup Anda, itu sudah masuk kategori kekerasan finansial.

2. Memaksa Berutang atas Nama Sendiri

Tanda lain yang sering muncul adalah pasangan memaksa Anda mengambil utang atas nama pribadi, baik berupa pinjaman online, kartu kredit, atau cicilan barang. Sementara itu, yang menikmati hasil dari utang tersebut adalah pasangan.

Selain membebani keuangan, kondisi ini merusak skor kredit Anda. Lebih berbahaya lagi, ketika pasangan tidak mau bertanggung jawab atas pembayaran, semua risiko hukum dan finansial jatuh kepada Anda. Ini jelas merupakan bentuk eksploitasi.

3. Mengendalikan Setiap Pengeluaran 

Memiliki kesepakatan bersama soal keuangan dalam rumah tangga adalah hal wajar. Namun, berbeda halnya jika pasangan mengendalikan setiap rupiah yang Anda keluarkan, bahkan untuk kebutuhan pribadi yang sederhana.

Contoh nyata: Anda harus melaporkan struk belanja, dilarang membeli barang tanpa persetujuan mereka, atau selalu dicurigai menyalahgunakan uang. Alih-alih membangun kepercayaan, pola ini mengekang kebebasan dan mempersempit ruang gerak Anda.

4. Menyembunyikan Informasi Keuangan

Transparansi adalah kunci hubungan yang sehat. Jika pasangan dengan sengaja menyembunyikan informasi soal pendapatan, aset, atau utang, ini bisa menjadi tanda adanya financial abuse.

Kondisi ini biasanya digunakan untuk mempertahankan dominasi. Anda mungkin tidak tahu seberapa besar pemasukan pasangan, sementara mereka menuntut Anda terbuka sepenuhnya. Ketidaksetaraan ini pada akhirnya membuat Anda berada di posisi lemah.

5. Menggunakan Uang sebagai Alat Kontrol Emosional

Financial abuse juga terjadi ketika pasangan menggunakan uang untuk mengendalikan emosi Anda. Misalnya, memberi hadiah hanya ketika Anda patuh, atau sebaliknya, menahan uang sebagai hukuman saat terjadi konflik.

Uang dijadikan alat manipulasi, bukan sebagai sarana bersama untuk membangun kehidupan. Situasi ini bisa membuat Anda merasa terjebak dalam siklus ketergantungan emosional sekaligus finansial, yang sangat sulit diputuskan tanpa keberanian besar.

Dampak Financial Abuse

Dampak dari financial abuse tidak hanya pada aspek materi. Korban sering kali mengalami stres berat, kehilangan rasa percaya diri, hingga kesulitan keluar dari hubungan toxic karena tidak punya sumber daya untuk mandiri. Dalam kasus ekstrem, financial abuse bisa berdampak pada masa depan anak, jika mereka ikut terdampak oleh keterbatasan finansial yang sengaja diciptakan pasangan.

Cara Mengatasi Financial Abuse 

Menghadapi financial abuse membutuhkan langkah yang hati-hati dan penuh kesadaran. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari tanda-tandanya sejak dini.

Pertama, jangan pernah menganggap kontrol berlebihan terhadap uang sebagai bentuk kepedulian. Pada kenyataannya itu bisa menjadi indikasi adanya kekerasan finansial. 

Selain itu, penting untuk memisahkan keuangan pribadi agar tetap memiliki kemandirian. Jika memungkinkan, milikilah rekening sendiri sehingga Anda tetap memiliki akses terhadap dana pribadi tanpa campur tangan pasangan.

Langkah berikutnya adalah mencari dukungan. Jangan ragu untuk membicarakan situasi yang Anda alami dengan keluarga, sahabat, atau konselor, terutama jika merasa terjebak dalam pola hubungan yang tidak sehat. Dukungan dari orang terdekat sering kali menjadi kunci untuk membuka jalan keluar dari kondisi sulit. 

Terakhir, jangan takut untuk mencari bantuan hukum. Financial abuse adalah bentuk kekerasan yang sah untuk dilaporkan, terutama bila sudah menimbulkan kerugian signifikan baik secara materi maupun psikologis. Melibatkan pihak berwenang bisa menjadi cara efektif untuk melindungi diri dan memutus siklus kekerasan.

Financial abuse sering kali tersembunyi di balik dalih “kepedulian” atau “aturan rumah tangga.” Padahal, tanda-tanda seperti membatasi akses keuangan, memaksa berutang, hingga menggunakan uang sebagai alat kontrol adalah bentuk kekerasan nyata.

Kenali tanda-tandanya sejak awal agar Anda bisa melindungi diri. Hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar kepercayaan, transparansi, dan kesetaraan—bukan dominasi melalui uang.