Viral 1312 dan ACAB, Simbol Perlawanan Usai Ojol Tewas Dilindas Rantis, Apa Artinya?

Tragedi meninggalnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan (21), usai dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat aksi demonstrasi di Jakarta, Kamis (28/8/2025), memicu gelombang protes luas di dunia maya.
Linimasa X (Twitter) dibanjiri unggahan bertagar 1312 dan ACAB, yang dipakai warganet untuk mengekspresikan kekecewaan serta kemarahan terhadap tindakan aparat kepolisian.
Tidak hanya itu, kalimat sindiran pedas “Who Do You Call When The Police Murder?” juga ramai beredar, menegaskan kemarahan publik atas insiden tersebut.
Apa Itu ACAB?
ACAB adalah singkatan dari All Cops Are Bastards atau All Coppers Are Bastards. Ungkapan ini telah dikenal sejak awal abad ke-20 di Inggris, khususnya di kalangan buruh yang sering berhadapan dengan aparat.
Pada dekade 1940-an, tahanan di Inggris kerap menuliskan “ACAB” di pakaian penjara. Frasa ini kemudian melekat pada subkultur punk dan skinhead pada era 1970–1980-an.
Band punk asal London, The 4-Skins, bahkan merilis lagu berjudul “A.C.A.B.” pada 1982, yang membuat istilah ini semakin populer di Eropa.
Meski begitu, frasa ACAB dianggap kontroversial. Anti-Defamation League (ADL) di Amerika Serikat memasukkan ACAB dalam daftar simbol kebencian. Di sejumlah negara Eropa, orang yang menampilkan tulisan ini pada kaus atau spanduk bisa dikenai denda.
Makna 1312
Selain ACAB, angka 1312 juga ramai digunakan. Deretan angka ini sejatinya merupakan bentuk sandi dari huruf-huruf A-C-A-B berdasarkan urutan alfabet:
- 1 (A) untuk huruf pertama All
- 3 (C) untuk huruf kedua Cops
- 1 (A) untuk huruf ketiga Are
- 2 (B) untuk huruf keempat Bastards
Kode numerik ini dipakai sebagai cara untuk menghindari sensor, terutama di ruang publik dan platform daring. Namun, maknanya tetap sama dengan ACAB: kritik terhadap institusi kepolisian.
Konteks Global dan Lokal
ACAB dan 1312 sejak lama digunakan dalam berbagai aksi protes di dunia. Istilah ini kerap muncul dalam grafiti, spanduk demonstrasi, hingga tagar media sosial.
Di Indonesia, slogan ini sudah dikenal sejak aksi reformasi 1998, dan kembali menyeruak setiap kali terjadi kekerasan aparat. Misalnya setelah tragedi Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022, ketika polisi menembakkan gas air mata ke tribun yang tidak terdapat gesekan.
Contoh lain muncul saat polisi memaksa band punk asal Purbalingga, Sukatani, meminta maaf atas lagu mereka yang berjudul “Bayar Bayar Bayar”.
Kini, pasca-kematian Affan Kurniawan, ribuan unggahan bertagar ACAB dan 1312 kembali membanjiri media sosial, menandakan protes publik terhadap tindakan represif aparat.
Simbol Perlawanan Kolektif
Meski bernuansa kasar, banyak warganet menekankan bahwa frasa ACAB tidak serta-merta ditujukan kepada setiap individu polisi. Slogan itu lebih dipahami sebagai kritik terhadap sistem dan budaya kepolisian yang dianggap opresif.
Dari buruh Inggris pada 1920-an, musik punk London 1980-an, hingga linimasa X di Indonesia tahun 2025, ACAB dan 1312 terus bertahan sebagai simbol perlawanan global.
Bagi sebagian besar warganet Indonesia, menuliskan 1312 atau ACAB di media sosial bukan sekadar ikut tren, melainkan cara untuk menyalurkan solidaritas dan kemarahan kolektif terhadap aparat yang dianggap menyalahgunakan kekuasaan.
Artikel ini telah tayang di KompasTV dengan judul Arti ACAB dan 1312 yang Ramai di Media Sosial Usai Demonstrasi di Indonesia Agustus 2025
Sebagian tayang di Tribunnews.com dengan judul Arti ACAB, 1312, Who Do You Call When The Police Murder? Viral usai Insiden Ojol Dilindas Rantis
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!