Rakyat Dibiarkan Bentrok dengan Aparat hingga Jatuh Korban, DPR Dinilai Pengecut

Suasana gedung DPR/MPR RI
Suasana gedung DPR/MPR RI

Aksi demonstrasi di depan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta kembali memanas setelah para wakil rakyat tak kunjung menemui massa. Alih-alih hadir, mereka justru dikabarkan meliburkan diri.

Sikap ini menuai kritik tajam dari Pengamat Politik Cecep Handoko yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pengecut dan pengkhianatan terhadap amanah rakyat.

Pria yang akrab disapa Ceko menyebut, tindakan “kabur” ini sengaja membuat rakyat berhadapan dengan aparat keamanan. Padahal, polisi seharusnya hanya bertugas mengamankan, bukan menjadi sasaran aspirasi masyarakat.

Gedung parlemen DPR RI

Gedung parlemen DPR RI

"Sementara yang terjadi hari ini adalah DPR bersembunyi dari rakyat. Mereka meliburkan diri, sementara rakyat dianggap tidak penting. Akibatnya, masyarakat dihadapkan dengan polisi. Padahal, aparat hanya menjalankan tugas pengamanan, bukan pihak yang harus menerima tuntutan. Ini jelas pengecut,” ujar Ceko dalam keterangan tertulisnya, Jumat 29 Agustus 2025.

Lebih lanjut, Ceko mengingatkan, fenomena ini bisa merusak legitimasi DPR di mata publik.

Ceko menegaskan, jika wakil rakyat tidak berani menemui konstituennya sendiri, maka untuk apa mereka dipilih, bukannya menampung aspirasi, malah lari dan membiarkan rakyat jadi korban.

Ceko juga menyamakan sikap DPR ini dengan kutipan almarhum Gus Dur yang menyebut mereka layaknya ‘anak TK’.

“Bahkan lebih buruk, karena anak TK masih mau bertemu orang tuanya. DPR justru lari sembunyi saat rakyat ingin bicara. Ini sikap yang sangat memalukan,” tambahnya.

Ia mendesak DPR RI untuk segera menghentikan kebiasaan meliburkan diri setiap ada aksi unjuk rasa. Menurutnya, dialog terbuka dan transparan jauh lebih terhormat dari pada terus-menerus bersembunyi.

“DPR harus berani menghadapi rakyat, bukan terus lari. Kalau terus begini, jangan salahkan rakyat kalau kepercayaan publik semakin hilang terhadap lembaga legislatif,” katanya.