Kehilangan Anak Lebih Menyakitkan bagi Orang Tua

Tangis Herlina pecah tatkala Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan datang melayat mendiang putranya, Affan Kurniawan. Di depan Pramono dan Anies Baswedan, Herlina melontarkan emosinya lantaran anaknya yang berusia 21 tahun meninggal dunia usai terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob, Baraccuda.
”Anak saya nggak ada ini,” kata Herlina, Jumat 29 Agustus 2025.
”Anak saya sudah tidak ada pak,” kata Herlina.
Wanita berhijab itu juga menuntut keadilan atas tewasnya sang putra yang saat itu tengah bekerja.
”Mohon dituntut keadilannya pak,” kata Herlina.
Berkaca pada kasus Herlina yang harus kehilangan putranya, tidak ada kehilangan yang mudah. Namun, ketika orang tua harus kehilangan anak, rasa sakit yang muncul sering kali jauh lebih menghancurkan daripada bentuk kehilangan lainnya.
Kehilangan orang tua, meski menyakitkan, masih bisa dipahami sebagai bagian dari siklus hidup alami. Tetapi ketika orang tua justru kehilangan anak, itu terasa melawan kodrat sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
Psikolog klinis dan penulis buku The Defining Decade, Dr. Meg Jay, pernah mengatakan bahwa kedewasaan adalah proses berdamai dengan realita yang tidak selalu sesuai harapan. Salah satu realita paling pahit adalah duka akibat kehilangan anak, yang meninggalkan bekas luka batin hampir permanen.
Mengapa Kehilangan Anak Lebih Mengerikan?
Secara alami, anak kehilangan orang tua dianggap wajar. Namun orang tua kehilangan anak terasa melawan alur kehidupan. Seorang anak adalah simbol masa depan, harapan, dan kelanjutan hidup. Saat anak pergi terlebih dahulu, orang tua bukan hanya kehilangan sosok, tetapi juga kehilangan makna, rencana, dan cita-cita yang sudah mereka bangun.
Penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology menemukan bahwa kehilangan anak berhubungan erat dengan turunnya rasa makna hidup. Hal ini karena identitas orang tua sering kali sangat melekat pada keberadaan anak. Ketika anak hilang, identitas itu ikut goyah.
Dampak Fisik dan Psikologis yang Berat
Kehilangan anak bukan sekadar rasa sedih. Banyak penelitian menunjukkan bahwa duka orang tua bisa memicu gangguan kesehatan serius.
- Sebuah studi besar yang dipublikasikan oleh Time di tahun 2022 lalu menemukan bahwa ibu yang kehilangan anak memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan kematian dini dibandingkan kehilangan anggota keluarga lain.
- Menurut Verywell Health, kehilangan anak kerap menimbulkan complicated grief, proses duka yang berkepanjangan, tidak linier, dan bisa berlangsung seumur hidup.
Efek ini terjadi karena rasa kehilangan anak memengaruhi hampir semua aspek hidup: emosi, kesehatan fisik, keuangan, hubungan sosial, bahkan spiritualitas.
Psikiater kenamaan yang memperkenalkan model “lima tahap duka”, Elisabeth Kübler-Ross dalam bukunya On Grief and Grieving, ia menulis bahwa sulit bagi kita untuk benar-benar melupakan akan kepergian orang yang kita cintai.
“Kenyataannya adalah kamu akan berduka selamanya. Kamu tidak akan pernah benar-benar ‘melupakan’ kepergian orang yang kamu cintai, kamu hanya akan belajar hidup dengannya. Kamu akan sembuh, dan kamu akan membangun kembali dirimu di sekitar kehilangan itu. Kamu akan utuh kembali, tapi kamu tidak akan pernah sama seperti sebelumnya,” tulis dia dalam buku tersebut.
Kutipan ini menggambarkan dengan jelas kondisi orang tua yang kehilangan anak. Duka tidak akan pernah hilang, namun perlahan orang tua belajar hidup berdampingan dengan rasa sakit itu. Mereka mungkin bisa tersenyum lagi, tetapi luka itu tetap ada, menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Rasa Bersalah yang Abadi
Salah satu alasan mengapa kehilangan anak begitu menghancurkan adalah rasa bersalah yang sering menyertainya. Banyak orang tua merasa gagal menjaga anak mereka tetap hidup. Ada yang terus bertanya-tanya, “Seandainya saya ada di sana… seandainya saya bisa mencegahnya…” Pikiran semacam ini memperberat proses duka.
Psikolog duka Alan Wolfelt menyebut rasa bersalah sebagai ’teman gelap’ dari berduka. Orang tua perlu memahami bahwa kehilangan anak bukan selalu karena kesalahan mereka, melainkan bagian dari takdir atau hal-hal di luar kendali.
Bagaimana Orang Tua Bisa Bertahan?
Tidak ada jalan pintas untuk menyembuhkan duka sebesar ini. Namun, ada beberapa pendekatan yang terbukti membantu:
- Mengakui rasa sakit: Menyadari bahwa kehilangan ini memang tidak akan pernah benar-benar hilang adalah langkah awal untuk belajar hidup berdampingan dengannya.
- Dukungan komunitas: Bergabung dengan kelompok orang tua yang mengalami hal serupa dapat membantu mengurangi rasa terisolasi.
- Pendekatan psikologis: Model dual process coping (Stroebe & Schut) menjelaskan bahwa orang tua perlu bergantian menghadapi rasa kehilangan (loss-oriented) dan berusaha membangun hidup baru (restoration-oriented). Proses ini memang berat, tapi memberi ruang bagi penyembuhan.
- Mencari makna baru: Beberapa orang tua memilih mengenang anak lewat kegiatan sosial, menulis, atau proyek yang memberi makna pada hidup mereka setelah kehilangan.