Penghentian Insentif Impor BEV: Picu 210.000 Lapangan Pekerjaan Baru

Kebijakan Penghentian Insentif Impor BEV Akan Dorong Produksi Domestik
Kebijakan pemerintah untuk menghentikan insentif impor kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) dalam bentuk completely built up (CBU) pada akhir Desember 2025 diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap industri otomotif nasional.
Fokus pada Produksi Dalam Negeri
Menurut pengamat industri otomotif, Yannes Martinus Pasaribu, langkah tersebut merupakan sinyal kuat bagi industri otomotif untuk memprioritaskan produksi domestik.
Hal ini akan mendorong industri dalam negeri untuk memenuhi target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ditetapkan minimal 40 persen pada tahun 2026.
Yannes menjelaskan, kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian Indonesia.
Ilustrasi pabrik BYD di Subang.
Dampaknya akan terasa tidak hanya dalam peningkatan lapangan kerja, tetapi juga dalam penguatan rantai pasok lokal, kontribusi sektor otomotif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta pengurangan ketergantungan terhadap impor komponen.
“Penghentian insentif impor BEV ini bermanfaat bagi Indonesia dengan menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat rantai pasok lokal,” kata Yannes kepada Kompas.com pada Rabu (27/8/2025).
Proyeksi Penciptaan Lapangan Kerja yang Signifikan
Terkait dengan potensi penciptaan lapangan kerja, Yannes memaparkan proyeksi yang bervariasi.
Dalam skenario moderat, industri otomotif diperkirakan dapat menyerap tambahan sekitar 210.000 tenaga kerja langsung hingga tahun 2030.
Namun, jika peluang investasi dapat dimanfaatkan secara optimal dan kondisi ekonomi makro menguat, jumlah tersebut bisa meningkat tajam hingga mencapai 820 ribu pekerja.
Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), saat ini industri otomotif di Indonesia menyerap sekitar 99.700 tenaga kerja langsung.
Rincian tersebut menunjukkan bahwa segmen kendaraan roda empat mempekerjakan sekitar 69.390 orang dengan kapasitas produksi mencapai 2,35 juta unit per tahun.
Sementara itu, segmen kendaraan roda dua dan tiga melibatkan sekitar 30.310 pekerja dengan total produksi tahunan mencapai 10,72 juta unit.
Dengan demikian, jika skenario yang dipaparkan oleh Yannes dapat terealisasi, jumlah tenaga kerja yang terserap dalam industri otomotif berpotensi lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun ke depan.
Kebijakan ini tidak hanya akan mendorong pertumbuhan sektor otomotif, tetapi juga memberi kontribusi besar terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan.
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!