Gajian di Hari Jumat Bikin Lebih Implusif Buat Makan atau Belanja? Hati-hati Tanda Stres

Setiap akhir bulan, banyak karyawan merasakan euforia setelah menerima gaji. Namun, euforia ini sering kali berujung pada perilaku konsumsi impulsif, seperti jajan berlebihan dan pembelian barang yang tidak diperlukan. Fenomena ini dikenal dengan istilah "Hawa Jumat Gajian." Meskipun menyenangkan, kebiasaan ini dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.
Perilaku konsumsi impulsif sering kali dipicu oleh stres dan perasaan ingin menghargai diri sendiri setelah bekerja keras. Menurut instruktur medis di Harvard Medical School, Dr. Fatima Cody Stanford, stres meningkatkan kadar hormon kortisol dalam darah.
Kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal yang membantu mengatur metabolisme tubuh. Ketika kadar kortisol meningkat, nafsu makan juga dapat meningkat, dan tubuh cenderung menyimpan lemak di sekitar perut. Stres juga dapat mengganggu tidur dan mendorong seseorang untuk mencari makanan, bahkan di tengah malam.
Selain itu, stres dapat mempengaruhi preferensi makanan. Penelitian menunjukkan bahwa stres fisik atau emosional meningkatkan konsumsi makanan tinggi lemak dan gula. Kombinasi kadar kortisol yang tinggi dan insulin yang tinggi dapat berperan dalam hal ini.
Makanan tinggi lemak dan gula tampaknya memiliki efek umpan balik yang mengurangi respons stres dan emosi terkait. Dengan kata lain, makanan tersebut benar-benar menjadi "comfort food" karena tampaknya mengurangi stres, yang mungkin berkontribusi pada keinginan orang untuk mengonsumsinya saat stres.
Dampak Kesehatan dari Perilaku Makan Berlebihan
1. Lonjakan Gula Darah
Konsumsi makanan manis secara berlebihan dapat menyebabkan lonjakan gula darah. Hal ini memicu pelepasan insulin yang berlebihan, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
2. Gangguan Pencernaan
Makan berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti kembung, mulas, dan gangguan pencernaan lainnya. Hal ini terjadi karena sistem pencernaan tidak dapat memproses makanan dalam jumlah besar secara efisien.
3. Stres dan Pengeluaran Tak Terkontrol
Perilaku konsumsi impulsif sering kali disertai dengan pengeluaran yang tidak terkontrol. Hal ini dapat menyebabkan stres finansial, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kadar kortisol dalam tubuh, menciptakan siklus stres yang berkelanjutan.
Profesor psikologi di University of California, San Francisco, Dr. Elissa Epel menjelaskan bahwa stres dapat mempengaruhi perilaku makan seseorang. Menurutnya, hormon stres seperti kortisol dapat meningkatkan nafsu makan, terutama terhadap makanan tinggi gula dan lemak, sebagai respons tubuh terhadap stres. Setelah episode stres berakhir, kadar kortisol seharusnya menurun. Namun, jika stres tidak hilang atau respons stres seseorang tetap aktif, kadar kortisol dapat tetap tinggi.
Dr. Epel juga menekankan pentingnya kesadaran diri dalam mengelola stres dan perilaku makan. Dengan memahami pemicu stres dan dampaknya terhadap pola makan, individu dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi konsumsi impulsif dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.
Tips Mengelola Perilaku Makan Impulsif
1. Menahan Diri
Sebelum membeli makanan atau barang, luangkan waktu sejenak untuk mempertimbangkan apakah itu benar-benar diperlukan. Teknik seperti "delay gratification" dapat membantu menahan dorongan impulsif.
2. Memilih Camilan Sehat
Alihkan keinginan untuk ngemil dengan memilih camilan sehat seperti buah-buahan, kacang-kacangan, atau yogurt rendah lemak. Makanan ini tidak hanya menyehatkan tetapi juga dapat membantu mengurangi stres.
3. Membuat Rencana Belanja Bijak
Sebelum pergi berbelanja, buatlah daftar belanja dan patuhi anggaran yang telah ditetapkan. Hindari berbelanja saat lapar atau stres untuk mengurangi kemungkinan pembelian impulsif.
4. Mengelola Stres dengan Sehat
Praktikkan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam untuk mengurangi stres. Aktivitas fisik juga dapat membantu menurunkan kadar kortisol dan meningkatkan suasana hati.