Pengembangan SPKLU, Upaya Kalista Bangun Ekosistem Kendaraan Listrik

Penetrasi mobil listrik murni berbasis baterai di Indonesia telah mencapai 10 persen hingga Juni 2025. Jumlah tersebut diklaim Kalista Group sebagai lonjakan signifikan, bahkan dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Capaian ini menjadi indikasi kuat bahwa Indonesia terus bergerak mendorong adopsi kendaraan listrik. Namun, dalam mempercepat transisi, terdapat sejumlah tantangan krusial, salah satunya terkait infrastruktur pengisian daya.
Menurut Albert Aulia Ilyas, Direktur Utama Kalista Group, mendukung akselerasi transisi menuju kendaraan listrik tidak bisa hanya berbicara soal unit kendaraan, tetapi juga tentang membangun ekosistem yang lengkap.
"Fenomena charging anxiety masih menjadi salah satu pertimbangan utama dalam keputusan beralih ke kendaraan listrik, di mana pengguna merasa cemas akan ketersediaan dan aksesibilitas stasiun pengisian daya," kata Albert dalam keterangan resminya, Jumat (29/8/2025).
Dijelaskan, keberlanjutan, efisiensi energi, dan kesiapan operasional hanya bisa dicapai bila seluruh komponen dari kendaraan, infrastruktur, teknologi, hingga SDM, berjalan secara harmonis. Karena itu, Kalista tidak hanya fokus pada penyediaan kendaraan, tetapi juga membangun jaringan pengisian daya dengan pendekatan sistem bukan proyek satuan.
SPKLU Kalista
Albert mengatakan, dalam konteks kendaraan listrik komersial, setiap menit downtime akibat baterai habis berarti potensi kerugian. Contoh, saat harus berhenti lama karena antrean pengisian daya, dampaknya mengalami penurunan efisiensi operasional dan tidak menguntungkan secara bisnis.
Menjawab tantangan ini, Kalista menyediakan layanan lengkap yang mencakup pembangunan dan pengelolaan charger sesuai kebutuhan rute dan operasional. Lokasi pemasangan disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Untuk transportasi publik, biasanya charger dengan kapasitas 100–200 kW dipasang di depo karena peruntukannya untuk mengisi daya armada dalam jumlah besar. Sehingga, penggunaannya difokuskan untuk operasional dan tidak diperuntukkan untuk penggunaan publik.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan pengisian daya kendaraan listrik umum, Kalista menggandeng Voltron dalam mengembangkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Tak hanya soal lokasi, SPKLU yang dibangun juga bervariasi berdasarkan karakteristik masing-masing lokasi.
"Mulai dari ultra fast charger 60-100 kW untuk pengisian cepat yang dipasang di sepanjang rest area, serta slow charger 22 kW yang biasanya dipasang di tempat makan dan mall. Hingga pertengahan 2025, Kalista telah membangun 216 charger aktif di 115 titik," ucapnya.
Selain itu, Kalista telah menjalin kerja sama pembiayaan hijau dengan salah satu bank BUMN senilai Rp 210 miliar untuk pengadaan unit EV sekaligus pengembangan SPKLU di Kota Medan. Pada lokasi ini, 18 stasiun pengisian daya dengan kapasitas 180 kW yang didukung daya 4.3 kVA dari PLN dibangun di depo bus listrik.
Penentuan spesifikasi charger telah disesuaikan dengan pola operasional. Dengan strategi yang efektif, 60 unit bus listrik dengan kapasitas baterai 303 kWh dapat melakukan pengisian daya hingga penuh hanya dalam waktu 1,5 jam.
Melalui kolaborasi beberapa pihak, Kalista juga telah meresmikan SPKLU di sepanjang Tol Trans-Jawa. Pemasangan dilakukan pada sembilan titik strategis, dari Rest Area Km 88A, Cipularang hingga Rest Area Km 725B di Surabaya.
Kalista juga menawarkan peluang kemitraan bagi pemilik lahan yang menempati lokasi strategis melalui skema bagi hasil.
SPKLU Kalista
"Kami menawarkan model revenue sharing bagi pemilik lahan dengan lokasi strategis, lengkap dengan dukungan operasional penuh dari kami. Prinsip kami kolaborasi strategis demi menciptakan sinergi berkesinambungan," ucap Albert.
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!