Terbongkar! Nomor yang Menyebarkan Tawaran Buzzer ke Jerome Polin

Dunia media sosial kembali dihebohkan dengan pengungkapan mengejutkan dari influencer ternama, Jerome Polin. Melalui akun Instagram pribadinya, Jerome membongkar tawaran kontroversial dari sebuah agensi yang mengajaknya menjadi buzzer untuk pemerintah dengan imbalan fantastis sebesar Rp 150 juta.
Tawaran tersebut, yang disampaikan melalui pesan WhatsApp, meminta Jerome untuk membuat konten berupa Instagram Reels yang berisi ajakan damai dari pemerintah, DPR, Brimob, ojek online, dan masyarakat.
Pesan tersebut dikirimkan kepada tim partnership agensi yang menaungi Jerome, yaitu Mantappu Corp. Manajer Jerome, Jehian Sijabat, dengan tegas mengungkap identitas nomor yang digunakan untuk menyebarkan tawaran tersebut.
“Screenshot yang di-post berasal dari pesan yang dikirimkan kepada tim partnership talent agency kami di @mantappucorp. Nomor yang digunakan untuk menyebarkan tawaran campaign tersebut adalah +62838479440369,” ungkap Jehian.
Jehian Sijabat, sebagai manajer, menegaskan sikap tegasnya menolak tawaran semacam ini. Ia bahkan mengimbau pelaku industri serupa untuk tidak tergiur oleh iming-iming uang.
“Kepada seluruh teman-teman satu industri kami di Campaign Agency, Talent Management, Creator/KOL Agency, jangan tergoda untuk menerima tawaran serupa. Kebaikan negara ini jauh lebih penting daripada uang berapapun,” tegas Jehian.
Dalam pesan yang dibagikan, agensi tersebut menawarkan paid promotion dengan detail yang sangat spesifik.
“Halo kak di sini kami ingin menawarkan paid promotion, untuk satu video konten dari kami apakah berminat kak? PP (RTP) AJAKAN DAMAI INDONESIA. Platform: IG Reels, Hari/tanggal: 01 September 2025. Serentak post: 15.00. Fee: Rp 150 juta. Ajakan untuk damai dari pemerintah, DPR, Brimob ojol dan Masyarakat. SOW: 1 reels konten dari kami,” bunyi pesan tersebut, seperti dikutip dari akun Instagram Jerome Polin.
Tidak hanya itu, agensi tersebut juga menetapkan sejumlah aturan ketat untuk konten yang akan dibuat. Ketentuan ini menunjukkan adanya arahan yang sangat terperinci untuk memastikan konten sesuai dengan keinginan pemberi tawaran.
“Ikuti post sesuai direction, jangan pakai sound lain, wajib memakai hashtag: menyusul. Tidak menggunakan kata negatif, porno, sara (on text clickbait) text clickbait gak boleh sama sekali,” tambah pesan tersebut.
Sementara itu, Jerome Polin secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap praktik ini melalui unggahan di Instagram. Ia mengkritik penggunaan dana besar untuk membayar buzzer, yang menurutnya tidak sejalan dengan kebutuhan mendesak masyarakat.
“Nih aku spill. Uang rakyat dipake buat bayar buzzer per orang Rp 150 juta. 1 post kalo dipake buat naikin gaji guru per orang 10 juta, udah bisa bikin 15 guru hidup sejahtera selama sebulan,” tulis Jerome.
Kritik ini menggambarkan keprihatinannya terhadap prioritas penggunaan anggaran negara, yang menurutnya lebih tepat dialokasikan untuk kesejahteraan guru.
Pengungkapan ini memicu berbagai reaksi di kalangan netizen dan pelaku industri kreatif. Banyak yang mengapresiasi sikap Jerome dan timnya yang memilih integritas di atas keuntungan finansial. Kasus ini juga kembali menyoroti isu transparansi dalam penggunaan anggaran publik dan praktik buzzer di media sosial, yang kerap memicu kontroversi.