Antara Cinta dan Lelah, Konflik Emosional yang Sering Dialami Generasi Sandwich

Ilustrasi Sandwich Generation Bayar Semua Kebutuhan Rumah
Ilustrasi Sandwich Generation Bayar Semua Kebutuhan Rumah

Bayangkan pagi yang sibuk seorang ibu menyiapkan sarapan anak yang akan berangkat sekolah sambil menakar obat untuk ayahnya yang sudah renta. Belum lagi pekerjaan kantor yang menanti.

Inilah potret nyata banyak orang dewasa di era sekarang menjadi generasi sandwich. Sheebuah posisi di mana seseorang terjepit tanggung jawab ganda yakni merawat orang tua sekaligus anak, dengan dirinya sendiri yang sering kali terabaikan.

Artikel ini akan mengupas pergulatan batin generasi sandwich bagaimana cinta bercampur dengan rasa lelah, beban emosional yang menumpuk, hingga cara bertahan agar tidak hancur di tengah tuntutan hidup.

Istilah sandwich generation pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller pada 1981 untuk menggambarkan orang dewasa yang berada di antara dua tanggung jawab yakni merawat anak di satu sisi dan orang tua di sisi lain. Layaknya isi dalam roti sandwich, mereka ’terhimpit’ di tengah kebutuhan dua generasi.

Kini, definisinya semakin luas. Bukan hanya mengurus anak kecil dan orang tua lanjut usia, sebagian juga merawat kakek-nenek atau saudara kandung. Kondisi ini membuat beban semakin berlapis hingga ada yang menyebutnya ’klub sandwich’.

Antara Cinta, Rasa Bersalah, dan Kelelahan

Cinta jelas menjadi motivasi utama generasi sandwich. Mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak sekaligus membalas jasa orang tua. Namun, cinta ini kerap bercampur dengan rasa bersalah: merasa tidak pernah cukup.

Seorang peneliti bernama Dr. Lei pernah menjelaskan bahwa setiap bagian dari tanggung jawab ini saja sudah penuh tekanan, apalagi jika digabung.

“Satu saja dari tanggung jawab ini bisa sangat menekan. Jika semuanya digabung, kondisinya jadi jauh lebih berat,” kata dia.

Konflik lain muncul karena keterbatasan waktu. Menurut Dr. Lei, banyak dari generasi sandwich akhirnya tidak bisa memberikan waktu berkualitas untuk anak-anak mereka, bahkan hubungan pernikahan ikut terpengaruh. Beban emosional yang terus menumpuk membuat energi terkuras habis, bukan hanya secara fisik tetapi juga mental.

Sementara itu, asisten profesor di Leonard Davis School of Gerontology, University of Southern California, Dr. Francesca Falzarano, menggambarkan kondisi ini bukan sekadar sandwich.

“Ini lebih mirip tujuh lapis tumpukan daripada sekadar sandwich,” katanya.

Ungkapan ini menggambarkan betapa kompleksnya beban generasi sandwich, berlapis-lapis, melibatkan emosi, waktu, tenaga, hingga kondisi keuangan.

Selain itu, banyak yang mengalami role reversal atau pembalikan peran. Dahulu dirawat orang tua, kini harus merawat mereka. Perubahan dinamika ini memicu keterasingan emosional: merasa kehilangan sosok orang tua yang dulu menjadi tempat bersandar.

Dampak Psikologis dan Sosial

Kelelahan emosional adalah hal paling sering dialami. Tekanan yang menumpuk berisiko menyebabkan depresi, kecemasan, bahkan burnout. Penelitian menunjukkan, jika beban merawat melebihi 20 jam per minggu, kesehatan mental dan fisik seseorang bisa ikut menurun drastis.

Sebuah laporan Pew Research Center menyebut hampir 38% generasi sandwich menanggung beban emosional yang signifikan karena harus memenuhi kebutuhan dua pihak sekaligus. Mereka bukan hanya kelelahan, tetapi juga terancam kehilangan identitas diri.

Model stres keluarga (Family Stress Model) menjelaskan bahwa tekanan ekonomi dan emosional yang menumpuk dapat memicu konflik rumah tangga. Tidak jarang muncul pertengkaran, baik dengan pasangan maupun anak, akibat rasa lelah yang tak tertahankan.

“Ini lebih mirip tujuh lapis tumpukan daripada sandwich,” kata asisten profesor di University of Southern California, yang khusus meneliti pengalaman emosional para caregiver generasi sandwich, Dr. Francesca Falzarano dalam sebuah wawancara.

Kalimat sederhana ini menggambarkan bahwa kehidupan generasi sandwich bukan hanya soal merawat anak dan orang tua, tapi juga beban finansial, pekerjaan, hubungan pasangan, hingga kesehatan pribadi. Kompleksitas inilah yang sering membuat mereka merasa terjebak tanpa jalan keluar.

Strategi Meredam Konflik Emosional

Meski berat, ada beberapa langkah yang bisa membantu generasi sandwich bertahan:

  1. Mencari dukungan sosial
    Bergabung dalam kelompok support atau komunitas caregiving membuat seseorang merasa tidak sendirian.
    Berbagi pengalaman juga bisa menjadi terapi emosional.
  2. Self-care bukan egois
    Banyak orang merasa bersalah jika mengambil waktu untuk diri sendiri. Padahal, merawat diri adalah syarat utama agar bisa terus merawat orang lain. Luangkan waktu untuk istirahat, olahraga ringan, atau sekadar hobi yang menenangkan.
  3. Kurangi perfeksionisme
    Tidak semua hal harus sempurna. Belajar berkata “cukup” bisa meringankan tekanan batin.
  4. Teknik coping dan self-soothing
    Studi BMC Public Health menemukan bahwa praktik spiritual, menulis jurnal, hingga melakukan aktivitas sederhana seperti bernapas dalam dapat membantu menurunkan stres.
  5. Bagi tanggung jawab
    Jangan ragu meminta bantuan saudara atau memanfaatkan layanan profesional seperti perawat lansia. Perencanaan medis dan finansial sejak dini juga penting agar beban tidak menumpuk di satu orang saja.