Heboh! Ferry Irwandi Sebut Ahmad Sahroni Salah Satu Penyebab Kekacauan Demo Buruh 28 Agustus

Heboh! Ferry Irwandi Sebut Ahmad Sahroni Salah Satu Penyebab Kekacauan Demo Buruh 28 Agustus, Demo Buruh dan Mahasiswa: Awalnya Aksi Damai, Eskalasi Kekacauan dan Respons Aparat, Ferry Irwandi Soroti Peran Ahmad Sahroni, Polemik Tanggung Jawab Moral Pejabat Publik, Kesimpulan:
Heboh! Ferry Irwandi Sebut Ahmad Sahroni Salah Satu Penyebab Kekacauan Demo Buruh 28 Agustus

Aksi besar-besaran yang digelar ribuan buruh dan mahasiswa pada 28 Agustus 2025 di depan Gedung DPR RI awalnya berlangsung damai. Namun, situasi berubah menjadi kericuhan yang tragis setelah terjadinya bentrokan antara massa dan aparat keamanan. Insiden ini mencatatkan korban jiwa pertama, yakni Affan Kurniawan, seorang driver ojek online berusia 21 tahun yang tewas dilindas mobil rantis Brimob di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Kematian Affan memicu kemarahan luas dari publik. Selain tuntutan kepada aparat kepolisian, sorotan juga mengarah kepada tokoh-tokoh publik yang dinilai memperburuk situasi. Salah satu suara keras datang dari aktivis dan kreator konten Ferry Irwandi, yang menyoroti peran ucapan Ahmad Sahroni sebagai salah satu penyebab eskalasi kekacauan tersebut.

Demo Buruh dan Mahasiswa: Awalnya Aksi Damai

Aksi yang dipimpin oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, bertujuan untuk menyuarakan aspirasi pekerja terkait isu-isu seperti upah minimum, outsourcing, PHK massal, dan regulasi pajak. Ribuan peserta aksi membawa spanduk besar dengan tuntutan jelas dan melakukan orasi bergantian dari panggung utama.

Awalnya, suasana tetap terkendali. Demonstran berkumpul di depan gerbang DPR RI dengan tertib, meskipun pengamanan ketat telah diterapkan oleh aparat kepolisian. Namun, menjelang siang hari, situasi mulai memanas akibat adanya oknum yang melakukan tindakan anarkis, seperti melempar botol, membakar petasan, hingga merusak fasilitas umum.

Eskalasi Kekacauan dan Respons Aparat

Melihat kerusuhan yang semakin tidak terkendali, aparat kepolisian yang berjaga langsung merespons dengan menggunakan gas air mata dan semprotan air. Namun, langkah tersebut malah memperbesar tensi di lapangan. Bentrokan fisik pun tak terhindarkan, dan situasi semakin sulit dikendalikan.

Pihak kepolisian kemudian menyebut adanya "penyusup" yang sengaja memicu kerusuhan. Meski demikian, kecaman tetap mengarah kepada pihak aparat atas penanganan yang dianggap kurang profesional. Massa buruh akhirnya membubarkan diri pada pukul 13.00 WIB, namun tragedi sudah tak dapat dihindari.

Tragedi puncak muncul ketika Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan rantis Brimob yang melaju cepat di tengah kekacauan. Kejadian ini memicu gelombang emosi dari publik, termasuk dari kalangan aktivis dan influencer yang menuntut keadilan bagi korban.

Ferry Irwandi Soroti Peran Ahmad Sahroni

Di tengah suasana duka, Ferry Irwandi memberikan kritik pedas kepada Ahmad Sahroni, anggota DPR RI dari Fraksi NasDem. Menurut Ferry, ujaran Ahmad Sahroni turut andil dalam memperkeruh situasi. Sebelumnya, Sahroni sempat menyebut para pendemo, termasuk mereka yang masih di bawah umur, sebagai "brengsek" dan mendukung tindakan aparat untuk menangkap mereka.

Ferry menilai pernyataan tersebut tidak hanya provokatif, tetapi juga bertentangan dengan tanggung jawab moral seorang pejabat publik. Dalam unggahan Instagram-nya, Ferry menyebut bahwa ucapan Ahmad Sahroni adalah "sampah" dan menantangnya untuk bertemu dalam diskusi publik terbuka.

Ia menegaskan bahwa kekayaan, fasilitas, dan kekuasaan yang dimiliki Ahmad Sahroni tidak akan bisa membungkam perjuangan publik demi keadilan. Ferry juga menyoroti pentingnya sikap dewasa dari pejabat publik dalam menangani situasi konflik, bukan malah memancing amarah massa dengan ujaran kasar.

Polemik Tanggung Jawab Moral Pejabat Publik

Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya tanggung jawab moral bagi pejabat publik dalam menjaga kata-kata agar tidak memicu bencana sosial. Setiap pernyataan yang dilontarkan, terutama dalam situasi sensitif seperti demo buruh, dapat memiliki dampak signifikan terhadap eskalasi atau penyelesaian konflik.

Demo 28 Agustus 2025 yang semula fokus pada isu buruh dan mahasiswa berujung tragedi dengan tewasnya Affan Kurniawan. Polemik ini masih menyisakan luka mendalam bagi publik, serta menyoroti pentingnya kesadaran sosial dari semua pihak terkait.

Kesimpulan:

Ferry Irwandi menyoroti peran Ahmad Sahroni dalam memperburuk situasi demo 28 Agustus 2025 melalui ucapannya yang dianggap provokatif. Kasus ini menunjukkan pentingnya tanggung jawab moral pejabat publik dalam menjaga stabilitas sosial, terutama dalam situasi yang rentan terhadap eskalasi konflik.