Luka Batin Orang Tua Ditinggal Anak Meninggal, Apakah Bisa Pulih?

Ilustrasi ibu berduka kehilangan anak, Tahapan Duka yang Dialami Orang Tua, Peran Dukungan Sosial dalam Proses Penyembuhan, Cara Orang Tua Bertahan dalam Kehilangan, Bisakah Luka Batin Ini Benar-Benar Pulih?
Ilustrasi ibu berduka kehilangan anak

Kamis malam, 28 Agustus 2025, publik Indonesia dikejutkan oleh kabar duka meninggalnya seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan. Pria berusia 21 tahun, meninggal dunia setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) Barracuda milik Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Insiden ini terjadi di tengah aksi demonstrasi yang berlangsung di sekitar lokasi. Dikenal sebagai sosok yang rajin dan pekerja keras, serta menjadi tulang punggung keluarganya, kematian Affan menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat terdekatnya.

Kehilangan seorang anak adalah salah satu pengalaman paling menyakitkan bagi orang tua. Rasa sakit ini tidak hanya datang dari kehilangan fisik, tetapi juga dari hilangnya masa depan, harapan, dan bagian dari diri mereka sendiri. Ahli konseling duka asal Amerika Serikat, Dr. Alan Wolfelt menjelaskan bahwa kehilangan seorang anak adalah pengalaman yang sangat menghancurkan dan sulit dipahami.

Tahapan Duka yang Dialami Orang Tua

Proses berduka adalah perjalanan emosional yang kompleks dan unik bagi setiap individu. Namun, ada beberapa tahapan umum yang sering dialami oleh orang tua yang kehilangan anak:

  1. Penyangkalan – Pada tahap ini, orang tua mungkin merasa sulit menerima kenyataan bahwa anak mereka telah tiada. Mereka mungkin merasa anak mereka masih hidup atau berharap kejadian ini hanya mimpi buruk.
  2. Marah – Rasa marah bisa muncul karena perasaan tidak adil atau tidak berdaya. Orang tua mungkin marah pada diri sendiri, orang lain, atau bahkan pada Tuhan.
  3. Tawar-menawar – Pada tahap ini, orang tua mungkin mencoba mencari cara untuk mengubah situasi, seperti berpikir "seandainya aku bisa melakukan sesuatu yang berbeda."
  4. Depresi – Rasa sedih dan kehilangan yang mendalam dapat menyebabkan depresi. Orang tua mungkin merasa kehilangan semangat hidup dan menarik diri dari aktivitas sehari-hari.
  5. Penerimaan – Pada tahap ini, orang tua mulai menerima kenyataan dan menemukan cara untuk melanjutkan hidup meskipun dengan rasa kehilangan yang tetap ada.

Dr. Wolfelt menekankan bahwa tujuan dari berduka bukanlah untuk melupakan anak yang telah meninggal, tetapi untuk menemukan cara hidup baru yang memasukkan ingatan dan cinta kepada anak tersebut.

Peran Dukungan Sosial dalam Proses Penyembuhan

Dukungan sosial memainkan peran penting dalam proses penyembuhan luka batin orang tua yang kehilangan anak. Kehadiran keluarga, teman, dan komunitas dapat memberikan kenyamanan emosional dan membantu orang tua merasa tidak sendirian dalam menghadapi duka mereka.

Dalam kasus Affan Kurniawan, solidaritas dari sesama pengemudi ojek online terlihat jelas. Ribuan rekan seprofesi mengiringi jenazah Affan ke tempat peristirahatan terakhir, menunjukkan betapa besar rasa empati dan dukungan yang ada di komunitas tersebut.

Dr. Wolfelt menekankan bahwa orang yang berduka tidak membutuhkan saran untuk segera move on. Mereka membutuhkan orang yang mau duduk bersama, mendengarkan, dan hadir dengan hati yang penuh kasih.

Cara Orang Tua Bertahan dalam Kehilangan

Meskipun mustahil menghapus rasa sakit sepenuhnya, ada beberapa langkah yang dapat membantu orang tua bertahan dan mulai proses penyembuhan:

  1. Mengizinkan diri merasakan duka – Jangan menekan perasaan atau merasa harus selalu kuat. Menangis dan merasakan kesedihan adalah bagian dari proses berduka.
  2. Mengenang anak dengan cara bermakna – Membuat album foto, menulis surat, atau melakukan kegiatan amal atas nama anak dapat membantu menjaga kenangan hidup.
  3. Mencari dukungan profesional – Konseling dengan psikolog atau terapis dapat membantu orang tua menavigasi perasaan mereka dan menemukan cara sehat untuk melanjutkan hidup.
  4. Menjaga kesehatan fisik – Meskipun sulit, penting untuk tetap menjaga pola makan, tidur, dan aktivitas fisik untuk mendukung kesehatan mental.
  5. Bergabung dengan kelompok dukungan – Bertemu dengan orang lain yang mengalami kehilangan serupa dapat memberikan rasa komunitas dan pemahaman yang mendalam.

Bisakah Luka Batin Ini Benar-Benar Pulih?

Pertanyaan besar yang sering muncul adalah, mungkinkah orang tua pulih sepenuhnya dari luka kehilangan anak? Menurut Dr. Wolfelt, kehilangan seorang anak tidak pernah benar-benar diselesaikan. Ini menjadi bagian dari hidup selamanya. Namun, dengan waktu, cinta, dan dukungan, orang tua dapat belajar untuk hidup kembali dengan rasa kehilangan itu.

Artinya, luka ini mungkin tidak pernah hilang total, tetapi orang tua bisa menemukan cara baru untuk hidup berdampingan dengan rasa sakit. Dari sana, perlahan akan muncul ruang untuk harapan, kebahagiaan, dan makna baru dalam hidup.