Top 5+ Fakta Gas Air Mata, dari Efek hingga Cara Mengatasinya

Gas air mata (tear gas) sering digunakan polisi untuk membubarkan massa, misalnya saat demonstrasi. Meski umumnya tidak mematikan, paparan gas air mata bisa menimbulkan rasa pedih pada mata, bahkan sampai kesulitan bernapas.
Adapun jenis gas air mata yang paling sering digunakan adalah CS (Chlorobenzylidene malononitrile) dan CN (Chloroacetophenone).
“Senyawa CS diformulasikan dengan beberapa bahan kimia, terutama pelarut metil isobutil keton (MIBK) yang digunakan sebagai pembawa. Senyawa CS ini yang berhubungan dengan reseptor syaraf yang menyebabkan rasa nyeri,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, dilaporkan oleh , Kamis (8/10/2020).
Simak beberapa fakta tentang gas air mata yang harus diketahui.
5 Fakta gas air mata yang harus diketahui
1. Berapa lama residu gas air mata bertahan?
Pengunjuk rasa menghindari tembakan gas air mata dari anggota kepolisian saat aksi 25 Agustus 2025 di Pejompongan, Jakarta, Senin (25/8/2025). Aksi tersebut berakhir ricuh.
Gas air mata sesungguhnya bukan berbentuk gas murni, melainkan cairan atau padatan yang dibuat menjadi aerosol.
Zat ini bekerja dengan mengiritasi selaput lendir pada mata, hidung, mulut, dan paru-paru.
Efek gas CS bisa bertahan sekitar lima sampai 10 menit setelah seseorang menghirup udara segar. Namun, jika tidak segera ditangani, sensasi nyeri di kulit atau mata dapat berlangsung hingga beberapa jam.
Efek gas CN biasanya lebih lama dibanding CS, bahkan dapat mencapai 30 menit, dilaporkan oleh, Jumat (23/8/2024).
2. Apa yang terjadi jika terkena gas air mata?
Gejala gas air mata biasanya muncul sekitar 30 detik setelah terpapar. Keluhan yang umum dialami, di antaranya mata berair dan pedih, pandangan kabur, sensasi terbakar di saluran pernapasan, batuk, hidung berair, rasa tercekik, iritasi kulit, serta nyeri dada.
Bahkan, dalam kondisi tertentu yang berat, korban bisa mengalami muntah, diare, dan disorientasi.
Pada penderita asma atau masalah pernapasan lain, efek gas air mata bisa jauh lebih berbahaya.
Profesor Alastair Hay dari Universitas Leeds, Inggris, yang meneliti dampak senjata kimia, menyebutkan, dalam kondisi terbatas, paparan gas air mata bisa memicu kesulitan bernapas hingga berujung fatal, dilaporkan oleh , Senin (3/10/2022).
3. Bagaimana cara mengatasi gas air mata?
Gas air mata yang ditembakkan polisi ke massa aksi di sekitar Mapolresta Malang Kota pada Jumat (29/8/2025), malam.
Cara paling sederhana untuk mengurangi efek gas air mata adalah segera berpindah ke tempat dengan udara segar.
“Secara teori, jika kita terkena senyawa CS memang disarankan untuk menyiram air bersih yang mengalir dalam beberapa waktu, untuk menurunkan konsentrasi CS pada kulit,” kata Agus.
CDC (Centers for Disease Control and Prevention) juga merekomendasikan beberapa langkah, antara lain melepas pakaian yang terkontaminasi, mandi dengan sabun dan air, serta membilas mata dengan air mengalir selama 10 sampai 15 menit.
Namun, hindari mengucek mata karena dapat memperburuk iritasi.
Selain itu, posisi juga penting. Jika gas dilepaskan di luar ruangan, menjauhlah dari awan gas, dan sebisa mungkin menuju ke area yang lebih tinggi. Sebab, gas air mata cenderung berada dekat permukaan tanah.
4. Apakah odol bisa meredakan gas air mata?
Seorang pengunjuk rasa membasuh wajahnya usai terkena gas air mata di depan Kantor Bupati Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8/2025). Unjuk rasa yang berakhir ricuh itu karena massa kecewa dan menilai tuntutan mereka agar Bupati Pati Sudewo mundur dari jabatannya tidak segera dipenuhi. ANTARA FOTO/Aji Styawan/nym.
Banyak orang percaya bahwa mengoleskan pasta gigi ke wajah atau sekitar mata dapat mencegah nyeri akibat gas air mata. Namun, bisa jadi tidak demikian.
“Biasanya ada yang mengolesi wajah dengan odol (pasta gigi) untuk mencegah nyeri gas air mata. Tapi, sebenarnya tidak ngefek apa-apa,” kata Agus.
Alih-alih pasta gigi, penanganan yang disarankan tetaplah menggunakan air bersih yang mengalir.
Air membantu menurunkan konsentrasi senyawa kimia CS yang menempel pada kulit atau mata.
5. Apakah gas air mata berbahaya dalam jangka panjang?
Ribuan pengunjuk rasa berlari dari tembakan gas air mata di Jalan Pahlawan Kota Semarang, Jumat (29/8/2025).
Meski umumnya efek gas air mata bersifat sementara, paparan berulang atau dalam dosis tinggi bisa menimbulkan dampak serius.
Menurut Kementerian Kesehatan, paparan gas air mata di ruang tertutup dapat menyebabkan gangguan pernapasan kronis, asma, dan risiko glaukoma. Bahkan, bila dosisnya besar, bisa berujung pada gagal napas.
CDC menjelaskan, paparan jangka panjang dapat meningkatkan risiko kebutaan dan kerusakan paru-paru.
Oleh krena itu, setelah terkena gas air mata, penting untuk segera membersihkan tubuh, melepas pakaian, dan mandi dengan sabun serta air mengalir agar sisa senyawa kimia tidak menempel lebih lama.
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!