Lansia dan Anak Kena Gas Air Mata? Ini Pertolongan Pertama Menurut Dokter

kesehatan anak, gas air mata, kesehatan lansia, cara mengatasi gas air mata, pertolongan pertama gas air mata, apa bahaya gas air mata, anak terkena gas air mata, lansia terkena gas air mata, anak kena gas air mata, lansia kena gas air mata, Lansia dan Anak Kena Gas Air Mata? Ini Pertolongan Pertama Menurut Dokter

Meskipun tidak mematikan, paparan gas air mata bisa cukup berbahaya untuk kelompok rentan, seperti anak kecil dan lanjut usia (lansia).

"Anak kecil, lansia, dan orang dengan gangguan atau penyakit pada saluran pernapasan seperti asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) merupakan golongan yang lebih rentan jika terpapar gas air mata," kata Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia, dr. Santi saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (30/8/2025).

Jika berada di situasi ini, ketahuilah langkah yang tepat untuk melindungi mereka.

Bahaya gas air mata untuk anak dan lansia

Ia melanjutkan, zat kimia dalam gas air mata dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, saluran pernapasan, dan kulit.

Pada anak kecil, dampaknya bisa lebih cepat karena tubuh mereka masih berkembang. Lansia juga lebih berisiko karena daya tahan tubuh menurun.

Pencegahan gas air mata di rumah

kesehatan anak, gas air mata, kesehatan lansia, cara mengatasi gas air mata, pertolongan pertama gas air mata, apa bahaya gas air mata, anak terkena gas air mata, lansia terkena gas air mata, anak kena gas air mata, lansia kena gas air mata, Lansia dan Anak Kena Gas Air Mata? Ini Pertolongan Pertama Menurut Dokter

Polisi menembakkan gas air mata saat membubarkan massa pengunjuk rasa di Jalan Palmerah Utara Jakarta, Kamis (28/8/2025). Unjuk rasa dipicu oleh kebijakan gaji dan tunjangan anggota DPR yang tinggi dan dinilai tidak sensitif dengan kondisi masyarakat saat ini.

Bila tempat tinggal terletak di sekitar area penembakkan gas air mata, lakukan pencegahan sebelum gas air mata masuk ke dalam rumah. 

"Tutup semua pintu, jendela yang berhubungan dengan sumber gas air mata. Tutup semua celah, seperti bawah pintu, sekitar jendela, dan ventilasi lain (AC, exhaust fan) dengan menggunakan handuk atau kain basah atau selotip," jelas dr. Santi.

Selain itu, matikanlah ventilasi udara agar udara luar tidak masuk. 

Sebisa mungkin tempatkan anak atau lansia di ruangan paling jauh dari jalan, serta paling tinggi di rumah. 

Jika ada, nyalakan humidifier dan air purifier dengan filter HEPA. Jika tak ada, letakkan semangkuk air di dalam kamar untuk melembapkan udara. 

Bagaimana jika anak atau lansia sudah terkena gas air mata?

Tenangkan dan lepas pakaian mereka

Apabila lansia atau anak suah terkena paparan gas air mata, segera bawalah mereka menjauh dari sumber paparan ke area terbuka dengan sirkulasi udara yang baik.

Jangan lupa perhatikanlah arah angin agar gas air mata tidak mengarah ke kamu dan keluarga.

Jika tengah berada di dalam rumah, pindahkan anak atau lansia ke ruangan yang paling jauh, paling tinggi, dan tidak memiliki jendela atau pintu yang menghadap area gas air mata.

Tidak hanya itu, lindungilah pernapasan anak atau lansia segera. 

"Tutupi hidung dan mulut anak dengan kain yang dibasahi dengan air saline atau air bersih, jangan tutup terlalu erat agar anak masih bisa bernapas dengan mudah," ucap dr. Santi.

"Tenangkan dan ajarkan anak untuk relaks agar anak tidak bernapas dengan cepat, anak yang ketakutan cenderung bernapas dengan cepat atau menangis, akibatnya partikel gas air mata akan semakin banyak yang masuk," tambahnya. 

Selanjutnya, bilaslah mata dan kulit mereka dengan air bersih atau air saline. Ulangi langkah ini jika diperlukan.

"Lepaskan pakaian yang terpapar, hindari menarik pakaian melewati kepala agar partikel gas air mata yang melekat pada tubuh tidak mengenai wajah (mata, hidung, mulut). Bila perlu potong pakaian, buang pakaian, atau simpan dalam wadah plastik tertutup, cuci terpisah dari pakaian lainnya," terang dr. Santi.

Selanjutnya berikanlah minum pada anak atau lansia agar tubuh mereka tidak dehidrasi.

Kapan harus ke dokter akibat gas air mata?

kesehatan anak, gas air mata, kesehatan lansia, cara mengatasi gas air mata, pertolongan pertama gas air mata, apa bahaya gas air mata, anak terkena gas air mata, lansia terkena gas air mata, anak kena gas air mata, lansia kena gas air mata, Lansia dan Anak Kena Gas Air Mata? Ini Pertolongan Pertama Menurut Dokter

Gas air mata yang ditembakkan polisi ke massa aksi di sekitar Mapolresta Malang Kota pada Jumat (29/8/2025), malam.

Menurut dr. Santi, sebaiknya segera cari bantuan medis jika pernapasan anak terpantau cepat, pendek-pendek, berbunyi ngik-ngik (mengi), dan sesak. 

Carilah bantuan medis jika buah hati mengatakan dadanya terasa nyeri, terjadi tarikan di dinding dada ke dalam, lubang hidung anak kembang-kempis ketika bernapas, serta area sekitar mulut dan kuku tampak kebiruan. 

Tak hanya itu, segera periksakan ke dokter bila batuk dan hidung berair terus-menerus.

Kemudian perhatikan bagian mata, apakah terlihat bengkak, kemerahan, berair tak kunjung kering, sensitif terhadap cahaya, dan pandangan kabur? Jika ya, segera cari bantuan tenaga medis. 

Bila anak atau lansia mengalami ruam kulit, gatal, terlihat luka bakar, luka lepuh, atau infeksi kulit, sebaiknya segera diperiksa oleh dokter.

Selain itu, apabila anak atau lansia mengalami mual, muntah, dan diare yang tak kunjung membaik, cepatlah mencari bantuan tenaga medis.

Apabila anak atau lansia terlihat bingung, lesu, gelisah, terus mengantuk, cemas, ketakutan, sulit tidur, dan mimpi buruk terus-menerus, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

Paparan gas air mata bisa berbahaya, apalagi untuk anak kecil dan lansia. Oleh sebab itu, selalu waspada dan lakukan pencegahan sejak awal.

Hindari membawa anak ke area yang berpotensi terjadi demonstrasi. Jika terpaksa berada di dekat lokasi, siapkan perlindungan dasar agar mereka tetap aman.

Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!