Apa Itu Gas Air Mata? Kenali Penyebab dan Bahayanya untuk Kesehatan Menurut Dokter

Bila mata terasa pedih dan berair ketika tengah melewati aksi demonstrasi, hati-hati bisa jadi kamu terkena gas air mata.
"Gas air mata adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, dan kulit sehingga secara temporer menurunkan kemampuan orang tetapi tidak bersifat mematikan," jelas Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia, dr. Santi saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (30/8/2025).
Gas air mata bukan benar-benar gas
Meski disebut sebagai gas, sebenarnya gas air mata bukan berbentuk gas murni.
Senyawa aktif yang digunakan berbentuk padatan, kemudian disebarkan dalam partikel halus melalui tabung atau semprotan bertekanan.
"Bayangkan ketika kita menumpahkan tepung atau bedak bayi dari tempat yang tinggi maka akan terlihat seolah-olah ada asap putih. Padahal itu adalah partikel halus yang mengapung di udara dan bukan gas," jelas dr. Santi.
Begitu pula dengan gas air mata, yang dalam bentuk aerosol masuk ke saluran pernapasan, mata, dan menempel di kulit.
Jenis yang paling sering dipakai adalah CS (chlorobenzylidenemalononitrile). Selain itu ada juga CN, CR, PS, CA, dan kombinasi dari beberapa senyawa aktif.
Apa yang terjadi jika terkena gas air mata?
Gas air mata yang ditembakkan polisi ke massa aksi di sekitar Mapolresta Malang Kota pada Jumat (29/8/2025), malam.
Menurut dr. Santi, mekanisme kerja gas air mata cukup sederhana. Begitu partikel kimia masuk ke tubuh, sistem pertahanan alami manusia langsung aktif. Senyawa ini akan mengiritasi selaput lendir di mata, hidung, tenggorokan, dan kulit.
Tubuh kemudian bereaksi dengan berbagai cara untuk melindungi diri. Mata akan mengeluarkan air lebih banyak agar senyawa asing bisa dibilas keluar.
Hidung juga bisa mengeluarkan lendir sebagai upaya menjebak partikel berbahaya sebelum masuk lebih jauh.
Saluran pernapasan ikut bereaksi dengan memicu batuk dan bersin, agar udara yang terkontaminasi segera dikeluarkan.
Di sisi lain, tubuh juga bisa merespons dengan menyempitkan saluran napas supaya partikel tidak masuk terlalu dalam ke paru-paru.
Pada sebagian orang, paparan gas air mata bahkan bisa memicu rasa mual, muntah, dan diare karena tubuh berusaha membuang zat kimia lewat saluran pencernaan.
Pada kulit akan memicu reaksi peradangan dan luka bakar agar berbagai senyawa tidak menyebar ke area kulit lainnya.
Gejala kena gas air mata, bisa parah
Ribuan pengunjuk rasa berlari dari tembakan gas air mata di Jalan Pahlawan Kota Semarang, Jumat (29/8/2025).
Gejala gas air mata biasanya bersifat sementara, sekitar 15 sampai 30 menit setelah menjauh dari sumber paparan.
Namun, menurut penjelasan dr. Santi, ada kelompok yang gejalanya lebih berat dan bisa berlangsung lebih lama.
Orang tersebut adalah penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit lainnya pada saluran pernapasan.
Kemudian pada lanjut usia (lansia), bayi, anak-anak, orang yang terpapar dari jarak sangat dekat, hingga mereka yang terjebak di ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk.
Efek gas air mata dalam jangka panjang
Ribuan pengunjuk rasa berlari dari tembakan gas air mata di Jalan Pahlawan Kota Semarang, Jumat (29/8/2025).
Meski disebut tidak mematikan, paparan gas air mata dalam dosis tinggi atau berulang bisa berdampak serius.
Dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan kebutaan, glaukoma, gagal napas, dan kerusakan permanen pada tenggorokan dan paru-paru.
Risiko akan diperparah jika gas air mata sudah kedaluwarsa atau disimpan dengan cara yang salah.
Senyawa yang terurai bisa menghasilkan zat beracun seperti phosgene, cyanide, dan nitrogen yang jauh lebih berbahaya bagi tubuh.
Gas air mata termasuk senyawa kimia yang bekerja dengan mengiritasi organ tubuh. Gejalanya bisa menakutkan, mata berair, sesak napas, kulit terasa terbakar, tapi kebanyakan sifat hanya sementara.
Menurut dr. Santi, memahami apa itu gas air mata dan bagaimana gejalanya bisa membantu kita lebih waspada.
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!