Premanisme Menganggu Sektor Pembiayaan Kendaraan Indonesia

Kredit Macet dan Permasalahan Ormas Menghantui Industri Otomotif
JAKARTA, KOMPAS.com – Industri otomotif Indonesia kini menghadapi tantangan serius, bukan hanya dari sisi produksi atau pasar, tetapi juga dalam sektor pembiayaan kendaraan.
Fenomena kredit macet yang marak dan keterlibatan premanisme yang mengatasnamakan organisasi masyarakat (ormas) untuk melindungi debitur yang menunggak cicilan, semakin mempersulit ekosistem industri ini.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan diunggah oleh akun Instagram @jktnewss beberapa waktu lalu.
Pembiayaan Kredit, Tulang Punggung Penjualan Kendaraan
Menurut Kukuh, skema pembiayaan kredit adalah tulang punggung distribusi mobil di Tanah Air, di mana sekitar 80 persen konsumen membeli kendaraan melalui metode ini.
Gangguan di sektor leasing langsung berimbas pada penjualan kendaraan secara nasional. “Di Indonesia, 80 persen orang beli mobil pakai kredit. Waktu kreditnya terganggu karena kemudian perusahaan-perusahaan pembiayaan ini terganggu, mereka menaikkan, meningkatkan pengamanannya, memperketat persyaratan dan itu dampaknya adalah penurunan penjualan kendaraan,” jelas Kukuh.
Gaikindo juga mencatat bahwa tren penggunaan ormas sebagai upaya untuk menghindari penarikan kendaraan macet semakin sering terjadi sejak diterbitkannya aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 22/2023 tentang Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan.
Aturan ini membatasi metode penagihan agar tidak merugikan konsumen, tetapi celah regulasi ini tampaknya dimanfaatkan oleh sebagian pihak yang tidak bertanggung jawab.
ilustrasi pajak barang mewah saat beli mobil.
Dampak Negatif Terhadap Akses Masyarakat
Sebuah video singkat yang viral menunjukkan peristiwa di Surabaya, Jawa Timur, di mana karyawan PT Bank of Tokyo (BOT) Finance Indonesia ditarik paksa dari kantor multifinance dan dibawa menggunakan mobil ormas.
Jika kondisi ini dibiarkan, perusahaan pembiayaan diperkirakan akan semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit dan bahkan memperketat syarat kepemilikan kendaraan.
Akibatnya, akses masyarakat terhadap mobil baru akan terhambat, dan pasar otomotif Indonesia akan semakin tertekan.
Keberlangsungan industri otomotif sangat bergantung pada stabilitas sektor pembiayaan.
Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pembiayaan, dan pihak-pihak terkait lainnya untuk mengatasi masalah ini demi masa depan yang lebih baik bagi industri otomotif di Indonesia.
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!