Surabaya Kota Lahirnya DBL dan Saksi Inovasi Basket Pelajar Indonesia

Suasana di DBL Arena Surabaya, Jawa Timur kembali hidup dengan riuh tepuk tangan, sorakan, dan semangat juang anak-anak muda yang turun ke lapangan.
Pada 28 Agustus hingga 31 Oktober 2025, Surabaya menjadi tuan rumah DBL 2025 East Java-North, ajang basket pelajar yang paling dinanti setiap tahunnya.
“Surabaya sekali istimewa buat kami karena kami memulai DBL itu dari kota ini hanya satu kota pada tahun 2004 yang kemudian 4 tahun kemudian kita berjalan ke 14 kota di Indonesia dan sekarang sudah 22 provinsi," ujar Direktur DBL Indonesia, Masany Audri, kepada jurnalis termasuk Kompas.com.
"Setiap tahun hal-hal baru yang kita lakukan di setiap musim selalu diujicobakan di Surabaya, jadi mulai dari jumlah, sistem, dan perubahan kompetisi. Setiap tahun festival dan entertainment selalu kita ujicobakan di Surabaya."
"Jadi hari ini akan kita mulai lagi di Surabaya sampai bulan depan yang didukung sekolahan karena mereka semua kan student atlet dan akan berjuang mendapatkan prestasi siapa juara DBL 2025,” imbuhnya.
Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa Surabaya bukan hanya kota kelahiran DBL, melainkan juga laboratorium besar di mana semua inovasi basket pelajar pertama kali dicoba.
Dari sistem pertandingan hingga konsep hiburan di luar lapangan, semuanya lahir di sini sebelum merambah kota lain.
Tahun 2025 ini, DBL Seri Surabaya diikuti oleh 134 tim dari 86 sekolah yang tersebar di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, hingga Tuban.
Mereka terbagi dalam 84 tim putra dan 50 tim putri. Jumlah yang besar ini semakin meneguhkan Surabaya sebagai pusat perkembangan basket pelajar di Indonesia.
Dalam pembukaan DBL Seri Surabaya di DBL Arena, Kamis (28/8/2025), Masany Audri– kembali menekankan peran kota ini.
“Apa yang berjalan bagus di Surabaya, kami coba terapkan di beberapa kota lain,” katanya.
Selain itu kompetisi tahun ini juga membawa format tiga fase yaitu round 1, round 2, dan Playoff. Sistem ini dirancang agar setiap tim memiliki kesempatan bermain lebih banyak.
Bahkan di fase Playoff, setiap tim diberikan “dua nyawa” melalui sistem double elimination.
Artinya, kekalahan pertama bukanlah akhir, mereka masih punya peluang membuktikan diri.
Di sini, persaingan bukan hanya di lapangan basket, tetapi juga pada tribune penonton.
Suporter sekolah beradu kreativitas dengan koreografi raksasa, spanduk, hingga nyanyian yang penuh semangat.
Mereka menjadi bukti bahwa basket di Surabaya sudah melebur menjadi budaya bersama, bukan hanya sekadar olahraga.
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!