Wajib Ditonton! 4 Film yang Jadi Cerminan Aparat Penegak Hukum dan Politik di Indonesia

Wajib Ditonton! 4 Film yang Jadi Cerminan Aparat Penegak Hukum dan Politik di Indonesia

Kekayaan sinema Indonesia tak perlu diragukan, terutama dalam genre hukum dan politik yang disajikan secara sinematik dan mendalam.

Banyak film bertema progresif ini mengungkap penyalahgunaan kekuasaan, seperti aparat yang menggunakan kekerasan dan ancaman terhadap rakyat.

Berikut adalah empat film yang mengangkat tema tersebut:

1. The Raid 2: Berandal (2014)

Film ini merupakan sekuel dari The Raid. The Raid 2: Berandal yang rilis pada tahun 2014, "menguliti kebusukan di dalam instansi kepolisian yang korup dan picik." Kisahnya mengikuti Rama, seorang polisi yang menyamar di antara para kriminal di Jakarta. Misinya adalah membongkar sindikat kejahatan dan mengungkap praktik korupsi di dalam kepolisian.

2. Di Balik 98 (2015)

Film ikonik karya sutradara Lukman Sardi ini menyoroti peristiwa Reformasi 1998 dan kejatuhan Orde Baru (Orba). Ceritanya berpusat pada perjuangan mahasiswa idealis yang gigih menyuarakan penindasan, di samping kepedulian mereka terhadap keluarga. Diperankan oleh Chelsea Islan dan Boy William, film ini terinspirasi dari tragedi 1998 dan menampilkan adegan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.

3. Kabut Berduri (2024)

Proyek asli Netflix karya sutradara Edwin ini dibintangi oleh Putri Marino. Kabut Berduri mengangkat isu penjualan orang atau human trafficking yang melibatkan oknum di kepolisian. Film ini mengisahkan dua polisi jujur yang menginvestigasi kasus pembunuhan misterius di perbatasan Indonesia-Malaysia. Penyelidikan mereka mengungkap bahwa teror kematian dan hilangnya orang-orang di dusun tersebut ternyata didalangi oleh atasan mereka sendiri di kepolisian.

Film biografi karya sutradara Riri Riza ini diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Dibintangi oleh Nicholas Saputra, film ini memotret perjalanan hidup dan idealisme Gie, seorang aktivis yang menentang pemerintahan zalim Orde Baru. Selain perjuangannya, film ini juga "menangkap potret masa Orba perilaku kekerasan polisi menghadapi massa aksi. (Tka)