Usai Insiden Affan Kurniawan Dilindas Rantis Polisi, Prabowo Disebut Ingin Demokrasi Dibangun di Atas Aspirasi yang Sehat

Usai Insiden Affan Kurniawan Dilindas Rantis Polisi, Prabowo Disebut Ingin Demokrasi Dibangun di Atas Aspirasi yang Sehat

Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT), Ahmad Riza Patria, mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto selalu menginginkan demokrasi yang sehat, yaitu demokrasi yang dibangun dari aspirasi murni untuk kepentingan bangsa. Menurut Riza, Presiden selalu menjaga demokrasi dan terbuka terhadap aspirasi masyarakat.

"Bapak Presiden, tentu, sejak dulu, Bapak Presiden selalu ingin demokrasi dibangun di atas aspirasi yang sehat, yang bersih, yang sungguh-sungguh hanya untuk kepentingan bangsa. Tidak boleh ada kepentingan-kepentingan lain di luar kepentingan bangsa dan negara," ucap Riza di rumah duka almarhum Affan Kurniawan, Jumat (30/8).

Riza juga mengingatkan para pengunjuk rasa untuk mewaspadai kelompok tertentu yang mungkin menunggangi aksi mereka. Ia menegaskan, Presiden Prabowo telah menyampaikan bahwa di negara demokrasi, masyarakat bebas menyampaikan aspirasi, asalkan dilakukan secara terbuka, transparan, dan tidak anarkis. Massa juga harus berhati-hati agar tidak ditunggangi atau dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain yang memiliki agenda tersembunyi.

Kelompok-kelompok ini, menurut Riza, berupaya mencegah Indonesia menjadi negara maju. Ia meminta seluruh masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak mudah terpancing dan terprovokasi.

Pemerintah saat ini bekerja keras menggunakan segala sumber daya untuk membangun bangsa, demi mewujudkan Indonesia yang maju, sejahtera, dan makmur.

Pada Jumat (29/8), ribuan massa berunjuk rasa di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, Jambi, Tangerang, Karawang, Jember, dan Yogyakarta. Mereka memprotes tunjangan gaji anggota DPR serta sikap arogan beberapa wakil rakyat.

Kemarahan massa memuncak setelah insiden tewasnya Affan Kurniawan dilindas kendaraan taktis (rantis) Barracuda milik Brimob Polri di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pada Kamis (28/8) malam. Affan meninggal dunia di RSCM saat mengantarkan makanan untuk pelanggannya.

Beberapa jam setelah kejadian itu, tujuh polisi yang berada di dalam kendaraan Barracuda ditangkap dan ditahan. Setelah menjalani pemeriksaan oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri, ketujuh polisi tersebut ditetapkan sebagai tersangka dan mengenakan baju tahanan.

Presiden Prabowo kemudian mengeluarkan pernyataan resmi pada Jumat siang. Ia menyampaikan rasa kecewa dan prihatinnya terhadap insiden tersebut.

"Saya sangat prihatin dan sangat sedih terjadi peristiwa ini. Pemerintah akan menjamin kehidupan keluarganya, serta memberikan perhatian khusus kepada baik orang tuanya, adik-adik, dan kakak-kakaknya. Saudara-saudara sekalian, sekali lagi, saya terkejut dan kecewa dengan tindakan petugas yang berlebihan," kata Prabowo.

Ia juga memerintahkan kepolisian untuk mengusut tuntas dan transparan kasus ini. Lalu, pada Jumat (29/8) malam pukul 21.50 WIB, Presiden Prabowo melayat ke rumah duka Affan. Di rumah kontrakan seluas 3x11 meter, ia bertemu dengan enam anggota keluarga almarhum dan menyampaikan belasungkawa.

Presiden mendengarkan langsung keluhan dan harapan keluarga korban. Dalam pertemuan tersebut, Presiden juga memberikan bantuan sebuah rumah di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk keluarga Affan yang selama ini mengontrak.

Bantuan ini diberikan melalui Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait. Semasa hidupnya, Affan memang memiliki cita-cita untuk membelikan rumah bagi ibunya, Herlina.